Friday, September 3, 2010

SEJARAH REOG PONOROGO

Pada dasarnya ada lima versi
cerita populer yang berkembang di
masyarakat tentang asal-usul Reog
dan Warok , namun salah satu
cerita yang paling terkenal adalah
cerita tentang pemberontakan Ki
Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan
pada masa Bhre Kertabhumi , Raja
Majapahit terakhir yang berkuasa
pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu
murka akan pengaruh kuat dari
pihak rekan Cina rajanya dalam
pemerintahan dan prilaku raja
yang korup, ia pun melihat bahwa
kekuasaan Kerajaan Majapahit
akan berakhir. Ia lalu
meninggalkan sang raja dan
mendirikan perguruan dimana ia
mengajar anak- anak muda seni
bela diri, ilmu kekebalan diri, dan
ilmu kesempurnaan dengan
harapan bahwa anak-anak muda
ini akan menjadi bibit dari
kebangkitan lagi kerajaan
Majapahit kelak. Sadar bahwa
pasukannya terlalu kecil untuk
melawan pasukan kerajaan maka
pesan politis Ki Ageng Kutu
disampaikan melalui pertunjukan
seni Reog , yang merupakan “
sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya.
Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun
perlawanan masyarakat lokal
menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog
ditampilkan topeng berbentuk
kepala singa yang dikenal sebagai
“Singa Barong”, raja hutan, yang
menjadi simbol untuk Kertabumi,
dan diatasnya ditancapkan bulu-
bulu merak hingga menyerupai
kipas raksasa yang menyimbolkan
pengaruh kuat para rekan Cinanya
yang mengatur dari atas segala
gerak- geriknya. Jatilan, yang
diperankan oleh kelompok penari
gemblak yang menunggangi kuda-
kudaan menjadi simbol kekuatan
pasukan Kerajaan Majapahit yang
menjadi perbandingan kontras
dengan kekuatan warok, yang
berada dibalik topeng badut
merah yang menjadi simbol untuk
Ki Ageng Kutu, sendirian dan
menopang berat topeng
singabarong yang mencapai lebih
dari 50 kg hanya dengan
menggunakan giginya. Populernya
Reog Ki Ageng Kutu akhirnya
menyebabkan Kertabumi
mengambil tindakan dan
menyerang perguruannya,
pemberontakan oleh warok
dengan cepat diatasi, dan
perguruan dilarang untuk
melanjutkan pengajaran akan
warok. Namun murid-murid Ki
Ageng kutu tetap melanjutkannya
secara diam-diam. Walaupun
begitu, kesenian Reognya sendiri
masih diperbolehkan untuk
dipentaskan karena sudah menjadi
pertunjukan populer diantara
masyarakat, namun jalan ceritanya
memiliki alur baru dimana
ditambahkan karakter- karakter
dari cerita rakyat Ponorogo yaitu
Kelono Sewondono, Dewi
Songgolangit, and Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog
Ponorogo kini adalah cerita
tentang Raja Ponorogo yang
berniat melamar putri Kediri, Dewi
Ragil Kuning, namun ditengah
perjalanan ia dicegat oleh Raja
Singabarong dari Kediri. Pasukan
Raja Singabarong terdiri dari
merak dan singa, sedangkan dari
pihak Kerajaan Ponorogo Raja
Kelono dan Wakilnya Bujanganom,
dikawal oleh warok (pria
berpakaian hitam-hitam dalam
tariannya), dan warok ini memiliki
ilmu hitam mematikan. Seluruh
tariannya merupakan tarian
perang antara Kerajaan Kediri dan
Kerajaan Ponorogo, dan mengadu
ilmu hitam antara keduanya, para
penari dalam keadaan ‘ kerasukan’
saat mementaskan tariannya .
Hingga kini masyarakat Ponorogo
hanya mengikuti apa yang menjadi
warisan leluhur mereka sebagai
pewarisan budaya yang sangat
kaya. Dalam pengalamannya Seni
Reog merupakan cipta kreasi
manusia yang terbentuk adanya
aliran kepercayaan yang ada
secara turun temurun dan terjaga.
Upacaranya pun menggunakan
syarat- syarat yang tidak mudah
bagi orang awam untuk
memenuhinya tanpa adanya garis
keturunan yang jelas. mereka
menganut garis keturunan
Parental dan hukum adat yang
masih berlaku.

No comments:

Post a Comment